Radikal

Terlalu radikal. Sungguh radikal. Radikalisme benar-benar telah mengakar dari masjid-masjid bahkan masjid di lingkungan pendidikan. Terlalu radikal.

Lihat saja bagaimana tidak radikal? Beberapa waktu yang lalu di beberapa masjid tertentu jamaah dengan sangat radikalnya memburu shaf terdepan di masjid tersebut. Tidak tanggung-tanggung, bahkan saat didapati ternyata shaf di dalam masjid sangat penuh, maka seketika pula ia dan para jamaah yang lain membuat shaf baru di luar area masjid. Di latar masjid. Di dekat tempat penitipan sepatu & sandal. Di depan kantin. Area koridor akses menuju masjid. Sampai ke halaman masjid yang berumput. Benar-benar amat sangat radikal.

sumber foto

Akan tetapi ibadah yang dilaksanakan di sini bukan shalat Ied, bukan pula shalat Jum’at, yang sudah pasti jamaahnya seringkali radikal sampai membludak memenuhi masjid. Bukan. Ini semua terjadi beberapa hari yang lalu. Masih di masa-masa awal Ramadhan. Shalat yang dilakukan pun bukan hanya shalat wajib ternyata, yang memang seharusnya seradikal itu umat Islam melaksanakannya. Tidak. Namun mereka sampai melakukan shalat sunnahnya, sampai akhir Imam beranjak dari tempatnya memimpin shalat. Sampai seradikal itu mereka setia beribadah di sana. Benar-benar amat sangat radikal.

Saya pun tak habis pikir kenapa mereka bisa seradikal itu. Padahal kebanyakan mereka adalah anak-anak muda. Mahasiswa. Masjidnya sendiri juga masih di lingkungan pendidikan mereka. Ada yang bilang pula ajaran di masjid itu mengajarkan radikalisme. Tapi saya tak mengira sampai sedemikian radikalnya mereka melaksanakan ibadah yang kalau dipikir-pikir hukumnya sunnah, yang berarti tak wajib mereka melaksanakannya, dan tak ada dosa bagi mereka pula jika mereka tak mengerjakannya. Maka benarlah kata seorang petinggi salah satu ormas di Indonesia ini, bahwa sanaya di sana radikalisme benar-benar diajarkan. Lihatlah hasilnya, ibadah yang mereka lakukan benar-benar radikal. Ibadah sunnah tapi segitu radikalnya. Padahal mereka laksanakan ibadah itu di rumah pun tak mengapa, kan hukumnya sunnah? Kenapa harus jamaah dan dengan jamaah yang membludak seperti itu? Dan lagi lihatlah, sampai-sampai mereka harus menggelar sajadah, atau mungkin jaket, atau surban mereka demi bisa shalat jamaah di sana walau mereka tak harus satu shaf dengan jamaah di dalam masjid. Benar-benar amat sangat radikal.

***

Mengutip pula saya dari perkataan seorang petinggi yang saya bahas di atas.

Melihat film porno lebih baik dari pada menonton ceramah provokatif dari teroris. Karena kalau lihat porno, pasti sambil beristighfar,

sumber

Maka saya berpikir lagi lebih dalam, dan saya pikir ada benarnya juga ia berkata seperti itu. Saat kalian melihat film porno di depan kalian, misal di meja depan kalian tergeletak film tersebut, reflek jika kalian muslim pastinya anda beristighfar kan? Pasti dong. Kan petinggi ormasnya juga bilang gitu. Mungkin kalau yang bukan muslim kalian akan mengatakan “astaga”. Mungkin sama saja. Walau makna dari istighfar adalah memohon ampunan kepada Tuhan. Tapi jikalau kalian dengan “melihat” film porno itu lantas kalian kemudian mengambil film itu dan “menyetel” lalu “menonton”, nah maka itu merupakan suatu tanda tanya raksasa yang perlu disematkan pada wajah anda. Normalnya orang beristighfar saat “melihat” film itu, lah anda malah lanjut dengan aktifitas “menonton” film itu. Berarti anda tak setuju dengan pendapat sang petinggi tersebut. Maka sering-seringlah istighfar.

Kemudian terkait dengan kutipan di atas, bahwa melihat film porno lebih baik dari menonton ceramah provokatif dari teroris ya sudah pasti benar dong. Seperti yang dibahas di atas, saat “melihat” film porno kita reflek istighfar, mohon ampun, bisa bernilai ibadah. Lah, saat kalian menonton ceramah provokatif, dari teroris pula, ya ada kemungkinan kalian gak akan hidup setelah ceramah selesai, atau minimal kalian akan merasa ketakutan dan merinding. Lha wong, yang ceramah teroris kok. Teroris kan orang yang meneror orang lain, yang menyebarkan ketakutan pada orang lain. Tugasnya saja sudah bisa bikin orang lain takut.

Lalu yang jadi pertanyaan, kok bisa teroris ceramah? Ceramah dimana? Ceramah-in siapa? Siapa terorisnya? Saya sendiri juga kurang paham. Bapak petingginya sendiri juga tidak bilang siapa terorisnya, yang mana orangnya, ciri-cirinya seperti apa. Tapi saya sih tak ambil pusing. Lihat lagi dari kutipan lanjutan pada sumber di atas.

Menurut Sa***id, kerap beredar ceramah-ceramah yang membawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif.

Maaf saya sensor namanya biar tak terlalu kelihatan siapa yang bilang. Tak ada maksud apa-apa, biar seperti penulis lain saja yang sensor sesuatu dengan tanda bintang.

Dari kutipan di atas ternyata bapak petinggi memberi detail bahwa teroris yang berceramah yang dimaksudkan itu membawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif. Saya masih bingung dengan logika seperti ini, bawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif. Saya sendiri berpikir bahwa dalil-dalil yang beredar kalau sumbernya dari Qur’an ya pastilah ia selalu sesuai dengan keadaan manapun, entah kekinian atau kekanaan. Jadi dalil apapun (dari sisi Islam) yang dibawa seharusnya tak ada masalah disampaikan di keadaan manapun, asal jangan dipotong-potong saja. Kemudian, “dengan membawa dalil yang kurang sesuai dengan kondisi kekinian sehingga lebih bersifat provokatif.” Ooooohhh…. Di sini saya baru memahami pola pikir bapak petinggi ini, dan saya setuju sekali. Dari yang saya sampaikan sebelumnya setiap dalil pasti sesuai dengan keadaan manapun, kan? Maka jika ada penceramah yang membawa dalil yang tak sesuai dengan suatu keadaan, maka pastilah jamaah menjadi terprovokasi, karena si penceramah berarti menyampaikan dalil yang salah. Dalil yang benar pasti akan sesuai dengan segala zaman, segala kondisi. Maka benarlah apa yang disampaikan bapak petinggi itu.

Dan berarti jika disambungkan kutipan yang satu dengan yang lain, bahwasanya teroris yang berceramah dengan membawa “dalil yang salah” menjadikan lebih bersifat provokatif, maka menjadi masuk akal apa yang beliau sampaikan. Teroris orang yang menyebar ketakutan, orang sudah takut, kemudian teroris itu berceramah, dengan membawa dalil yang salah, pasti lah orang yang takut itu menjadi terprovokasi. Maka seharusnya saat terdapat teroris yang berceramah, yang terbaik yang dilakukan jamaah adalah membawa teroris itu ramai-ramai untuk dibawa dan ditahan oleh aparat. Jamaah yang sehat harusnya marah dan terprovokasi dengan apa yang teroris sampaikan. Sudah teroris, ceramah pula, dan bawa dalil yang salah. Pasti suatu hal yang wajar kalau jamaah terprovokasi. Namun kenyataannya sekarang tak ada jamaah yang terprovokasi sampai marah dan membawanya ke aparat. Apakah jamaahnya kurang sehat? Saya rasa tidak. Mungkin jamaahnya yang keburu takut karena mengetahui si penceramah adalah teroris. Dan sekarang saya rasa semuanya masuk akal.

***

Lantas apa hubungannya radikal dengan teroris ceramah?

Menurut saya, yang disampaikan bapak petinggi itu sudah benar, tapi saya sendiri kurang paham apa maksudnya menghubuungkan radikalisme dengan teroris berceramah. Bagaimana pola pikir si bapak petinggi yang terhormat itu. Padahal dalam KBBI sendiri arti dari radikal salah satunya adalah “secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip)”. Maka tak salah di awal pembahasan saya mengatakan para jamaah itu radikal. Berebut shaf terdepan masjid, memenuhi masjid sampai membludak keluar masjid, berjamaah dengan shalat yang padahal hukumnya sunnah, jamaah berbondong-bondong beribadah di bulan Ramadhan. Mereka benar-benar radikal. Karena mereka paham secara mendasar beberapa prinsip yang diajarkan dalam agama mereka. Sedangkan teroris berceramah yang dibahas setelahnya, menurut saya tak ada sangkut pautnya dengan radikal yang dibahas sebelumnya. Apakah mungkin si bapak tersebut sedang menceritakan dua hal yang berbeda? Apel dengan jeruk? Atau sang bapak salah fokus? Hingga harus minum aq***ua? Saya berusaha berprasangka baik saja pada bapak tersebut, mungkin saya yang salah paham. Atau mungkin paham saya yang salah.

Entah kalimat “salah paham/paham salah” itu terngiang-ngiang terus. Entah asalnya darimana dan siapa yang mengumandangkannya.

Sudah begitu saja. Biar simpel dan tak ada yang terprovokasi.

Wasiran

Ditulis oleh dua jempol, dua jari telunjuk, dua jari tengah, dua jari manis, dan dua jari kelingking.

Tak kebetulan saya lahir di dunia yang fana ini dari pasangan laki-laki dan perempuan, karena jika itu semua kebetulan maka tak ada lah yang namanya rencana Ilahi dan jikalau saya lahir dari pasangan laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan maka sebenarnya saya hanya bergurau belaka. Akan tetapi pasangan laki-laki dan perempuan itu beragama Islam, maka saya pun beragama Islam. Di beberapa blok dari tempat saya tinggal ada seorang yang terlahir dari pasangan laki-laki dan perempuan yang beragama Nasrani, namun entah kenapa ia beragama Islam. Dan di kejauhan sana ada lagi seorang yang terlahir dari pasangan laki-laki dan perempuan yang beragama Hindu, namun sekarang ia beragama Nasrani. Bagaimana bisa? Itulah kegunaan otak. Pada saat umur tertentu ia dipergunakan untuk berpikir. Mampu membedakan mana yang baik mana yang tidak. Jadi sebenarnya jika perkara agama yang dipermasalahkan maka tak terlalu ada sangkut pautnya kita berasal dari orang tua yang beragama apa. Toh, pada akhirnya kita mampu berpikir sendiri dengan cara kita sendiri yang menjadikan diri kita yang sekarang ini. Lalu jikalau ada seorang yang lahir di Swedia atau Israel, apakah ada jaminan bahwa ia akan memeluk Islam sebagai agamanya? Jawabannya adalah “YA”.  Berikut opsi yang memungkinkan:

  • Orang tua tersebut sedari awal memang muslim yang memang tinggal di Swedia atau Israel dan anak mereka sedari awal diajarkan Islam menurut Qur’an dan Sunnah secara tepat.
  • Salah satu orang tua tersebut beragama Islam dan sang anak diajarkan kedua agama yang berbeda secara baik dan benar, dan saat sang anak mampu berpikir secara dewasa ia mampu untuk memutuskan bahwa Islam adalah ajaran yang menurutnya paling sempurna, sehingga ia memeluk Islam.
  • Kedua orang tua tersebut beragama non-Islam dan saat sang anak mencapai tahap dewasa dalam berpikir ia mampu membandingkan agama satu dengan yang lain, yang pada akhirnya ia mampu memutuskan secara matang bahwa ajaran Islam yang paling benar, sehingga ia memeluk Islam.

Memang benar seorang manusia tak bisa memilih dari mana ia akan dilahirkan dan dimana ia tinggal setelah dilahirkan. Namun pada akhirnya ia mampu memaksimalkan kinerja otaknya yang menyebabkan pola pikirnya berkembang (tergantung pola didik orang tuanya) sehingga di saat ia menghadapi suatu perkara tertentu di kehidupan mendatang ia mampu memutuskan sesuatu, atau minimal memilah-milah mana yang baik, mana yang tidak.

Kewarganegaraannya adalah warisan, namanya adalah warisan, gennya adalah warisan. penyakitnya bisa merupakan warisan, namun agamanya bukan merupakan warisan. Saat ia terkena wasir bisa saja itu merupakan faktor gen keluarganya. Namun saat pengetahuan medismu masih kurang, pengetahuan riwayat penyakit keluargamu masih kurang, maka jangan melulu menyalahkan gen sebagai faktor utama wasirannya. Sangat tak sopan jika tetiba ia menyalahkan orang tuanya, kakek-neneknya, menyebutnya dengan keluarga wasiran. Memang benar wasir bisa karena faktor keturunan, namun belilah cermin untuk berkaca terlebih dahulu. Jangan-jangan ia wasiran dikarenakan pola makannya yang kurang baik. Berbeda dengan agama, yang mana ia bisa berpindah-pindah dari agama A ke agama Z sekehendak hatinya. Maka tidak bisa disebutkan saat wasiran anda menyalahkan orang tua dan saat anda seorang muslim anda juga menyalahkan orang tua yang juga muslim. Silakan cari tahu agama lain jika berminat untuk berpindah keyakinan dan keyakinan selain Islam memang lebih baik. Silakan olahraga dan buat pola makan yang teratur supaya tak gampang wasiran. Tak baik lho selalu menyalahkan yang tak patut disalahkan. Namun untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang wasiran yang berbeda-beda, karena saya tahu bahwa mereka wasiran bisa karena faktor gen atau keteledoran mereka sendiri.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan dimana kita tinggal. Tapi yang patut diingat, lingkungan kita kebanyakan bersih dari radiasi lho ya, normalnya. Tak mungkin saat orang tua kita memiliki ras kaukasoid kemudian dikarenakan lingkungan tertentu ras kita berubah menjadi ras persia. Meskipun lingkungan terpapar radiasi sinar gamma sekalipun, saat orang tua memiliki ras tertentu, takkan bisa kita tetiba menjadi sosok hijau raksasa bercelana pendek ungu. Terlebih lagi suku dan kebangsaan. Tak mungkin pula saat orang tua kita yang bersuku minang kemudian kita lahir di tengah perkampungan suku aborigin lantas kita seketika itu bersuku aborigin, dan seketika itu pula memiliki kebangsaan Australia. Untuk agama? Ya itu keputusan kita sebagai manusia yang berpikir kok. Sudah dibahas juga di bagian awal tulisan. Mau orang tuamu alim ulama pemimpin ormas, kalau kita pikir tak beragama lebih baik ya silakan putuskan jadi atheist. Atau orang tuamu penyembah api sekalipun, kalau otakmu lebih percaya pada trinitas silakan saja anut yang kau percaya. Agama itu kebebasan tiap orang kok.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Sejak saya bisa berpikir lebih dewasa mengenai hidup, saya pun juga masih memiliki pemikiran Islam adalah agama yang paling benar. Sejak saya hidup sekian tahun lamanya pun saya menyaksikan bahwa beberapa orang yang didoktrin agama X, Y, Z adalah agama yang paling benar kemudian berpindah ke Islam karena memang mereka yakin bahwa Islam yang paling benar. Dan itu memang fakta.

Orang-orang yang berpikir seharusnya tak kunjung “kasihan” saat ia seorang yang wasiran. Mereka harus cari tahu penyebabnya sehingga menjadi wasiran seperti ini. Pola makan jelek? Faktor gen? Akan timbul rasa keingintahuan. Begitu juga saat kita didoktrin kenapa Islam diklaim agama yang paling benar? Mana buktinya? Secara ilmiah bisa dibuktikan tidak? Secara nalar? Akal sehat? Logika? Kemudian kenapa orang-orang beragama X, Y, Z malah masuk neraka? Lihat secara detail bagaimana ajaran mereka? Sudah sampai kesanakah sebelum menyimpulkan agamamu yang paling benar? Sudah? Belum? Saat tahapan self-claim-mu mengatakan dirimu seorang yang berpikir maka anda akan lebih lanjut menggali ilmu tersebut sedalam-dalamnya. Supaya dalam memeluk suatu agama atau meyakini suatu keyakinan kalian benar-benar harus 100% percaya faktor 5W+1H yang anda paparkan sendiri. Bukan meyakini suatu hal secara buta, atau sebelah mata, atau mungkin menganggapnya “warisan”.

Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

Kalau pun kebenaran adalah selembar cermin yang jatuh dan pecah dari tangan “Tuhan”, dan menjadi berkeping-keping, menjadikan kebenaran itu bernilai jamak. Jikalau Tuhan membuat kebenaran bernilai jamak, yang mengartikan kebenaran suatu agama yang “beraneka ragam” itu bernilai benar semua, lantas kenapa tiap agama mengklaim dirinya yang paling benar? Apakah ada kejanggalan? Jikalau Tuhan hanya satu, apakah berarti Dia tak konsisten dengan mengatakan di tiap “pedomannya” dengan klaim “paling benarnya”? Atau apakah Tuhan bermacam-macam? Jikalau Tuhan di sini dianggap jamak, maka Tuhan yang mana yang dikutipkan seorang Jalaluddin Rumi? Bukankah ia mengutipkan Tuhan yang singular? Kenapa kutipan tersebut terkesan ambigu? Dan jikalau kita muslim, kenapa kita tak langsung mengutip pada Qur’an yang telah jelas sumbernya, yang mengatakan dengan gamblang bahwasanya Islam adalah agama yang paling benar. Dan diridhai oleh Tuhan sendiri. Kenapa terdapat kontradiksi?

Dari kutipan awal saja sudah jelas terjadi kejanggalan. Apalah artinya jika diteruskan. Kebenaran yang jamak, tak mutlak, yang dibuat oleh Tuhan, kemudian Tuhan berperan memecah belah “kebenaran” yang menjadikan “kebenaran” itu menjadi suatu “keambiguan”.

Manusia takkan pernah bisa kok menjadi Tuhan. Apakah ada motor pabrikan bisa berperan sebagai insinyur mesin? Yang merancang dan menciptakan motor pabrikan? Manusia ya memang tugasnya menyampaikan ayat-ayat Tuhan. Layaknya motor yang menjalankan suatu pekerjaan yang diinstruksikan pengguna yang telah dirancang oleh insinyur. Tapi jikalau terdapat ayat-ayat Tuhan yang mengatakan ciri orang beriman adalah A, B, C, apakah salah jika saya melihat orang yang memiliki ciri A, B, C, kemudian saya sebut dia orang yang beriman? Apakah salah jika saya mengatakan orang dengan ciri X, Y, Z adalah orang munafik sementara ayat-ayat Tuhan mengatakan itu semua? Apakah salah saat penumpang motor mengatakan bahwa aki motor X jelek, sementara insinyur melampirkan di buku manual bahwa aki motor Z lebih bagus untuk dipakai? Apa dengan seperti itu si “motor” atau penumpangnya semacam playing God? 

Justru karena kita masih menghamba makanya kita percaya dengan ayat-ayatNya. Karena jika terhadap ayat-ayatNya saja tak percaya, masihkah anda sebut diri menghamba? Melabeli orang memanglah Tuhan yang mampu. Tapi Tuhan sendiri telah menyampaikan petunjuk agar para pengikutNya mampu melihat “label” itu dengan petunjuk yang ada. Kalau kita sendiri tak sanggup melihat label berdasarkan petunjuk yang didapat, bagaimana tahu bahwa bungkus ini berisi bebuahan? Bungkus itu berisi sesayuran? Atau bungkus di sana yang berisi kekucingan? Dan bungkus mereka yang wasiran?

Lantas jika ada pertanyaan dari anda menanyakan siapa yang menciptakan Islam, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan atheis, dan memelihara mereka sampai hari ini kalau bukan Tuhan? Maka jawab saja dengan riang gemilang dengan sudut pandang kalian masing-masing. Saya sebagai sudut pandang muslim dengan mudah akan menjawab bahwa Tuhan hanya menciptakan Islam sedari awal. Tak ada istilah Yahudi, Nasrani, dan lain sebagainya seperti yang disebutkan di atas. Istilah-istilah itu hanyalah ciptaan orang-orang yang berbelok ke jalur yang lain. Sama saja semisal Tuhan yang hanya menciptakan satu jalan saja dengan satu “nama jalan” pula, yang jauh meliuk-liuk, bersemak duri, berlumpur dan bertanah liat, sampai suatu saat orang malas melalui jalan yang menyusahkan itu dan membuat jalan baru dengan “nama baru”, dan jalan baru lagi, dan jalan baru lagi, nama baru lagi, dan seterusnya, yang pada akhirnya ia lupa tujuan jalannya mau diarahkan kemana, yang akhirnya menjauhkannya dari jalan utama yang Tuhan telah ciptakan. Sampai akhirnya mereka tak menemukan toilet untuk tempat bernaung mereka dikala membutuhkan, hingga mereka wasiran.

Lalu jika ditanyakan lagi, apakah suatu negara yang dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama akan menjamin kerukunan? Tergantung agamanya. Bisa ya, bisa tidak. Berikut opsi-opsinya:

  • Jika pemimpinnya tidak taat dengan perintah agamanya, tidak menjalankan hukum sesuai dengan apa yang diperintahkan dengan agamanya, maka bisa jadi akan terjadi perselisihan. Rakyat yang menuntut pemimpin yang taat, melawan rakyat yang membela pemimpin yang ia cintai.
  • Jika pemimpinnya sangat taat dengan perintah agamanya, menjalankan hukum sesuai dengan perintah agamanya, maka sangat dimungkinkan terjadi kerukunan dalam bermasyarakat. Rakyat yang senang karena pemimpin yang taat, berdampingan dengan rakyat yang merasakan perubahan yang baik karena pemimpin menjalankan segala hukum sesuai dengan perintah agamanya.

Sangat logis saat poin terakhir di atas terdapat suatu kontra-pemimpin pada awalnya. Maka hal tersebut akan terjadi penyesuaian seiring berjalannya dengan waktu. Mereka mungkin tak menerima semisal hukuman potong tangan bagi pencuri. Namun bukankah itu menimbulkan efek jera bagi mereka yang berpotensi melakukan tindak pencurian? Yang mengakibatkan laju pencurian di negara tersebut menjadi menurun? Apakah dengan menurunnya hal-hal yang buruk yang terjadi di tengah masyarakat akan mengganggu masyarakat seutuhnya di negara tersebut?

Dan karena itulah jika anda-anda semua membaca sejarah lagi maka akan terlihat bahwa pejuang-pejuang negeri ini sesungguhnya adalah para ulama. Lihat dan baca lagi Undang-Undang Dasar yang kebanyakan terinspirasi dari beberapa hukum yang ada di Qur’an. Perhatikan lagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sangat mirip dengan jalannya bernegara dalam syari’at Islam. Apakah negara-negara Islam zaman kekhalifahan dulu tidak menghargai pemeluk agama lain yang tinggal di negara tersebut? Pernah ada cerita kah bahwa terdapat pembakaran gereja atau sinagog di zaman kekhalifahan? Pernahkah terdapat intervensi dari rakyat muslim terhadap rakyat non-muslim hanya karena berbeda keyakinan? Saya rasa tidak. Padahal sistem penerapan hukum yang berjalan di sana pada zaman dulu adalah hukum Islam. Akan tetapi mereka hidup dengan baik berdamping-dampingan. Meskipun tetangga mereka wasiran, mereka mau membantu mengurus dan merawat mereka yang wasiran. Tak ada masalah.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini dulunya bersatu padu dalam bingkai yang sama walau dengan foto yang berbeda-beda. Sebegitu lamanya negara ini dijajah oleh orang-orang “non Islam” kemudian pada akhirnya berhasil dibebaskan oleh rakyat kita, dan banyak ulama yang berperan di sana. Dan mereka meneriakan takbir sekencang-kencangnya saat jihad yang mereka lakukan berhasil, yang menjadikan kita bisa duduk dengan nyaman di rumah masing-masing tanpa intervensi orang-orang “non Islam” yang dulu menduduki kita. Ketika negara lain sudah pergi ke bulan, atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, nenek moyang kita sedari dulu sibuk mencerdaskan akhlak rakyat-rakyatnya, sibuk memperbaiki amalan-amalannya, untuk kehidupan selanjutnya dengan waktu yang tak terhingga. Karena apalah artinya ke bulan jika bernafas di sana saja kita harus bawa tangki oksigen kemana-mana layaknya seorang pasien tertentu di rumah sakit? Apalah artinya merancang teknologi baru yang pada ujungnya lebih banyak “memajukan” mudharat di tengah masyarakat?

Kita tak harus berpikiran sama. Tapi alangkah baiknya jika anda berpikir dengan pandangan yang berbeda, dengan pemikiran yang luas, dan bukan menilai sesuatu dari satu macam teropong saja. Teropongmu belum tentu seakurat teropong yang lain.

Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan “luas” cara berpikir kita. Jangan apa-apa dihubungkan ke tulisan yang judulnya hampir sama.

Keguguran Menuju Kesegaran

Setangkai anggrek bulan yang hampir gugur layu, kini segar kembali entah mengapa.

Saat teringat syair tersebut maka yang teringat dalam benak, lubuk, serta sanubari terdalam ialah setangkai bunga anggrek bulan, namun yang bagi pribadi yang masih terlampau remaja di kala itu dan sampai sekarang yang masih sangat muda di kala ini, entah mengapa bunga anggrek tersebut dinamakan anggrek bulan. Ini bagaikan suatu penerapan yang kurang tepat dari suatu istilah atau nama subjek pada suatu objek tertentu yang menurut orang awam yang tak paham, serta orang yang tak awam yang paham sekalipun, saking rancunya.

Teringat pula mangga manalagi yang bagaimana bisa dicari saat anda mendapatkan suatu buah mangga justru diminta untuk mencari yang lain. Atau yang terbaru yang mungkin belum terlalu tren di kalangan anak muda adalah mangga Syahrini. Entah apa yang ada di dalam pikiran si pencipta istilah atau kosakata baru tersebut. Mungkinkah mangga tersebut saat akan dipetik si pemetik tersebut ragu-ragu, sehingga terlihat maju-mundur dikarenakan keraguannya? Atau kah mangga tersebut terlihat cantik dengan ulat bulu di sekitarnya yang bulunya sendiri bagaikan badai El-Nino? Atau justru mangga tersebut jatuh di antara bunga-bunga yang bermekaran bergelora di ujung pemakaman?

***

Diilustrasikan bahwasanya anggrek bulan tersebut telah gugur dan telah layu. Sebagai orang yang tak ahli dalam bidang bercocok tanam, kurang bisa untuk mendeskripsikan sesuatu yang tak terlalu dipahami ini. Namun sebagai orang awam, bisa diberi suatu ringkasan yang singkat bahwasanya suatu bunga yang telah gugur dan terlebih lagi telah layu, bagaimana bisa ia menjadi segar kembali seperti sedia kala? Apa mungkin ilustrasi tersebut mengisyaratkan sesuatu yang telah mati namun bisa menjadi segar kembali saat ia masih hidup? Sebagaimana seseorang yang telah beramal baik di dunia, kemudian ia menua mati dan membusuk lalu dibangkitkan kembali dalam keadaan yang segar bugar seakan dia kembali pada umurnya yang belia? Who knows.

Mengenang kembali jasad yang lekang oleh waktu ini. Waktu menggerogoti apapun dan membunuh apapun. Namun waktu juga dapat menyegarkan apapun sekaligus menghidupkan apapun. Sesaat setelah detik ini berlalu bagian darimu entah akan tergerus atau tersegarkan, entah akan terbunuh atau terbangkitkan. Maka tak sia-sialah wahai kalian yang mempelajari matematika atau kalkulus, karena hampir semua yang ada di situ adalah benar adanya. Dan jangan kau sesali pula wahai kau yang berubah terhadap waktu, karena saat kau tak berubah terhadap waktu sesungguhnya kau sama saja seperti waktu yang lampau. Namun janganlah kau senang wahai anda-anda yang telah berubah terhadap waktu. Lihatlah bagaimana waktu merubahmu, menjadi grafik yang selalu naik kah? Atau turun kah?

Entah mau ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut…

Maka, mari kita perhatikan sang waktu wahai saudara-saudaraku.

Kalian lihatkah sang anak tengah jalanan meninggalkan dunia sinetron ini? Janganlah sedih dulu wahai kau pengagum dunia! Selalu ingat-ingatlah bahwasanya saat yang satu gugur, maka akan selalu digantikan dengan yang baru. Bisa jadi ia lebih baik atau lebih buruk. Maka lihatlah kejadian yang telah sudah-sudah di sekitarmu, wahai pecinta dunia! Lihatlah penjual bubur ayam broiler yang telah tiada! Bagaimana kau lihat kelanjutan dunianya? Waktu ke dua ribu sekian telah dilaluinya! Dan sungguhlah itu merupakan suatu keluar biasaan yang sangat nyata!

***

Kemudian jika kita rujuk kembali pada kutipan perdana di atas sana, diilustrasikan bahwa anggrek yang telah gugur dan layu menjadi anggrek yang segar seperti saat dia pertama kali mekar. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa syair tersebut ditujukan bagi seseorang yang selama saat-saat mekar sampai sebelum gugur-layu, ia senantiasa memanfaatkan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat. Waktu memang menggerogoti jasadnya yang tak pernah kekal, akan tetapi sesuatu di dalam dirinya tersegarkan untuk tujuan yang akan datang. Sesuatu yang menyegarkan pastilah menyenangkan dan disukai orang. Bagi seorang yang terlampau kehausan, air keruh apapun (selama itu air tawar) akan menjadi sesuatu yang menyenangkan karena baginya adalah sesuatu yang menyegarkan. Sedangkan untuk seorang yang normal, air keruh bisa jadi mendatangkan sesuatu yang tak mengenakan. Terlihat ambigu, akan tetapi berhikmah dan tanpa ragu.

Itulah sesuatu yang tergerus dan tersegarkan. Sesuatu yang terkadang tak disadari ada dalam diri kalian wahai jasad-jasad pembawa kotoran. Setiap masukan yang sama akan membawa keluaran yang berbeda-beda tergantung kondisi kalian sendiri. Saat kalian masih penuh dengan kekosongan, maka air tawar dalam bentuk apapun dan dari sumber mana pun akan membuatmu maju selangkah dua langkah penuh harapan. Namun saat air tawar mengisi relung kekosonganmu, air tawar tambahan yang lain akan membuatmu mundur justru di atas dua langkah sehingga melamban.

Segarkan maka pencerahan berdatangan. Renungkan maka kekotoran tersingkirkan.