Riwayatmu Dulu: 2016

2016-7

Entah kenapa sampai tulisan awal pada tempat-tempat ini harus suatu perangkuman dari sekian banyaknya kejadian di tahun 2016 masehi. Mana yang menuliskan sekian macam kejadian di tahun 1437 hijriyah yang telah lampau? Macam mana kalian yang berseragam amalan hijriyah ini? Sampai hati kalian entah menanggalkan seragammu atau sengaja menggantungkan di lemari pakaianmu yang memojok membisu di kamar situ?

Mengecewakan ya memang nyatanya mengecewakan. Mau bagaimana bisa dikatakan. Seragam kita hanya dipakaikan saat perayaan untuk amalan-amalan kami yang besar-besaran, mungkin bagi sebagian kalangan kita yang awamian (baca: golongan awam).  Saya mengaku awamian dan mengatakan ini sebagai awam vegetarian yang juga menyukai perdagingan yang telah dimatangkan. Namun anda-anda wahai yang tak mengaku awamian, ya sudah silakan tanggalkan percakapan kita yang takkan bersesuaian.

Seperti yang dipaparkan di atas, penanggalan kita dipakai saat seragam kita dikenakan. Standar dunia fana sekarang memang seperti itu. “Gusur saja mereka yang memakai hijriyah, yang telah lama punah sekitar 1924 masehi silam! Buatlah dunia baru bagi kalian pengguna hijriyah! Sebut saja alam barzah!” Begitulah kata mereka sang revolusioner dunia merdeka, mempesona, dan penuh canda tawa serta hiasan dunia menggelora ria dikalungkan di lehernya.

***

Namun yang terjadi belakangan di negeri masehi sangat ngeri. Intiplah beberapa kejadian di rumah tetangga yang terjadi pada salah satu pulau bernama golden island. Entah apa yang terjadi di pulau tersebut. Seketika heboh tumpah ruah tanpa jeda. Seorang kaya dengan beberapa keturunannya dan beberapa orang di sekitarnya terpaksa mengungsi dari negeri ini. Kabar terakhir dari sang pengungsi yang pemaksa pun telah direngkuh oleh sang abjad-pertama-parat.

Progres pun tak menjadi regres dalam kasus ini seperti yang telah silam sebelumnya. Dimana vietnam drip disajikan kepada sahabat setia yang telah tidur tanpa diduga. Mengapa demikian? Simak saja cerita di belantika rumah mereka yang diceritakan mereka sang sutradara bualan saja yang berbab-bab mereka bercerita. Kalian bisa nilai sendiri. Aku tak bisa berbuat apa-apa selain hanya sang penyampai realita yang sejatinya hina.

Kemudian jika kalian bercengkerama di depan teras rumah terbuka, maka kendaraan pun akan berlalu lalang saling bertegur sapa dengan anak-anak belia yang baru bisa membaca. Maka kendaraan dan sang anak pun saling bersuka ria dengan sang anak yang melompat tanda penuh ceria dan sang kendaraan yang bersuara berbusa-busa tanpa bahasa yang bermakna. Lalu, hal tersebut mendunia dan semua orang berbahagia seakan-akan mereka memasuki surga yang luasnya tiada tara.

Lucunya orang-orang negeri mereka.

Di sebelah sana ada berduyun-duyun orang datang meminta keadilan kampung mereka. “Wahai pak RT!” kata mereka. “Tunjukkanlah rasa keadilanmu!” Lalu pak RT pergi lewat pintu belakang yang sebenarnya terhubung langsung ke sawah dan ladang. Padahal sebelum mereka beramai-ramai datang, ada satu orang bercangkang yang entah bagaimana mengutarakan yang selatan dan menyelatankan yang utara. Tak masalah bagi beberapa warga, namun masalah besar bagi kebanyakan warga. Dan lihatlah saat itu pak RT mengejar layang-layang yang terbang melewati sawah dan ladang. Lalu pulang saat malam menjelang. Warga lain saat itu sudah mulai bermain kembang dan api. Ah, betapa ramainya.

Sementara di waktu yang lain mereka berkumpul lagi, kali ini pak RT ikut berbincang dalam sepersekian detik waktu standar mereka. Namun warga menghargai kedatangan pak RT yang bagai angin lalu. Hei, hujan pun datang! Kabar gembira bagi mereka yang menuntut sang satu orang. Lalu do’a pun terkabulkan sampai sekarang sang satu orang pulang pergi menuju jalanan dan meja berlumut-lumut.

Wow, wow, tapi seribu wow.

Mereka sang teman dari sang satu orang tak mau terima! Maka mereka lalu mencari celah untuk menemukan jerawat dari sang warga kebanyakan itu. Jerawat ditemukan! Kemudian mereka pun menuntut jerawat itu dibasmi supaya wajah terlihat halus. Tapi benarkah mereka menemukan jerawat? Cerita itu akan terus berlanjut sampai tahun yang segera berganti nanti.

Lalu hei, kawan! Baru saja kemarin ada keributan rutin yang tiap tahun tak kunjung usai! Bagaimana kau mengungkapkannya, wahai kawan? Bosan sudah. Lelah pun pernah. Jenuh semakin parah. Tapi kenapa kawan, tak pernah kau mengerti apa yang kami maksud? Kalau kalian berseragam dan dikatakan mereka yang berseragam tak boleh melakukan maka turutilah mereka yang berpendidikan, kawan! Tak usahlah sok sok menjadi lebih pintar dari mereka yang telah belajar semenjak shubuh sementara kau baru belajar mengeja huruf hijaiyah. Tak usahlah seolah kalian menjadi kepala niagara dan hati burj khalifa.  Bosan aku melihat polah tingkahmu yang semacam itu.

Kemudian kau mendengar kabar dari kampung di seberang sana saat pak RT mereka yang baru terpilih. Ya, benar. Pak RT yang akan menjabat tahun depan yang tabiatnya membenci kaummu. “Tak usahlah kau memprovokasi!” katamu. Tapi tiada yang memprovokasi selain kenyataan yang disampaikan kepadamu. Tengoklah beberapa warga yang berseragam sama denganmu di kampung seberang sana. Betapa ketakutannya mereka terhadap pak RT yang baru. Betapa orang-orang tak berseragam yang sama pun sama tak sukanya dengan pak RT itu. Ramai-ramai mereka memprotes terpilihnya ia. Ada yang bilang ia curang lah, main dukun lah, main hati lah.

Maka benar saja kalau nanti di kampung seberang kita yang lain menjadi semakin parah gegara RT yang baru itu. Lihat saja saat saat pak RT yang lama menjabat pun kampung mereka porak poranda sedemikian rupa tak berbentuk tak bersisa. Mereka yang berseragan sama denganmu juga tak bernyawa. Pergi dari dunia yang fana dan serba berbisa. Yang bahagia menjadi merana. Yang merana menjadi menderita. Mereka berseru terhadap seluruh kampung dan seisinya. “Kemana kalian wahai warga berseragam?!” Aku pun malu, kalian pun harus malu. Nanti malam kalian seharusnya pilu masih melihat mereka terpaku membisu. Bukan dengan membakar sesuatu yang kalian sebut dengan bunga. Bunga yang berakhiran hiasan neraka. Kalian sirna dalam keindahannya dan lalu terpana tanpa duka. Bahagia. Omong kosong belaka! Sia-sia kalian kini berada! Hura-hura dan celaka! Larut malam berfoya, pagi menyapa kau pun amnesia!

Lebih baik kalian mengigau di tepi malam dibanding melakukan kesiaan yang membuatmu semakin tenggelam. Buramlah kalian wahai jasad-jasad pencari kesenangan! Angan-angan yang kalian dapatkan saat nanti kau berada dalam barisan. Tangan kiri hamparkan untuk menerima buku catatan. Dan sangat ngeri pemandangan yang bisa jadi kau persaksikan.

Kemudian lihat kawan, halilintar menggelegar. Buyar sudah, buyar! Semerbak anginmu telah lama berlalu. Hujan badai, kilat beruntai. Riwayatmu telah bertamu, maka pergilah saat kau mau. Maka buyar sudah semua. Buyar!

Riwayat Pertama

Besi tua peretak asa yang teruraikan dalam uraian-uraian udara yang pernah berjumpa, lewat, lalu sirna. Seperti pekat jiwa yang larut dalam untaian hiasan dunia. Belenggu lagu dan syair syahdu perenggut memori itu, tentang hakikat manusia yang paling terdahulu. Alasan mereka tercipta. Muasal mereka terusirkan menuju zona paling fana. Serta awal dimana mereka bersama untuk suatu tujuan mulia.

Inilah riwayat pertama penggugah banyak makna yang tak tersampaikan oleh kata-kata.

Merekah namun sulit ditelaah. Menguap namun mudah ditangkap. Berbuah namun seketika meremah. Bersemi namun cukup sehari. Seperti saat engkau menerima kesaksian pertama, sebelum tersingkirkan kau ke dunia. Namun amnesia dirimu dibuatnya, ada yang mengakui ingatanmu hilang kemana setelah pesan-pesan kau baca, dan ada pula yang tetap amnesia seperti sedia kala meski ia tak buta.

Inilah riwayat pertama penyampai pesan buana. Pesan yang nanti tak seorang pun mengingkari apapun yang terjadi pada diri.

Deru debu di padang pasir berseru membisu seakan sembilu membuat tubuh mereka membiru. Tanda-tanda yang diberikan mensiratkan sesuatu yang akan kau persaksikan kelak di akhir pengasingan. Semerbak sendu pilu itu tak sanggup kau rengkuh sampai akhirnya kau pilu menyaksikan dirimu yang dulu. Dan di situlah sebagian darimu mengaku kalah setelah tak pernah kau mengalah demi belenggu yang tak pernah kau belah.

Inilah riwayat pertama pendengar sukma yang berbicara tanpa tersentuh oleh suara.

Maka jikalau setelah saat ini pun engkau masih tetap mengigau tentang betapa kacau engkau di surau, lantas apakah senja di ujung tepi sana dapat menutup rasa yang tak pernah kau sapa?