Radikal

Terlalu radikal. Sungguh radikal. Radikalisme benar-benar telah mengakar dari masjid-masjid bahkan masjid di lingkungan pendidikan. Terlalu radikal.

Lihat saja bagaimana tidak radikal? Beberapa waktu yang lalu di beberapa masjid tertentu jamaah dengan sangat radikalnya memburu shaf terdepan di masjid tersebut. Tidak tanggung-tanggung, bahkan saat didapati ternyata shaf di dalam masjid sangat penuh, maka seketika pula ia dan para jamaah yang lain membuat shaf baru di luar area masjid. Di latar masjid. Di dekat tempat penitipan sepatu & sandal. Di depan kantin. Area koridor akses menuju masjid. Sampai ke halaman masjid yang berumput. Benar-benar amat sangat radikal.

sumber foto

Akan tetapi ibadah yang dilaksanakan di sini bukan shalat Ied, bukan pula shalat Jum’at, yang sudah pasti jamaahnya seringkali radikal sampai membludak memenuhi masjid. Bukan. Ini semua terjadi beberapa hari yang lalu. Masih di masa-masa awal Ramadhan. Shalat yang dilakukan pun bukan hanya shalat wajib ternyata, yang memang seharusnya seradikal itu umat Islam melaksanakannya. Tidak. Namun mereka sampai melakukan shalat sunnahnya, sampai akhir Imam beranjak dari tempatnya memimpin shalat. Sampai seradikal itu mereka setia beribadah di sana. Benar-benar amat sangat radikal.

Saya pun tak habis pikir kenapa mereka bisa seradikal itu. Padahal kebanyakan mereka adalah anak-anak muda. Mahasiswa. Masjidnya sendiri juga masih di lingkungan pendidikan mereka. Ada yang bilang pula ajaran di masjid itu mengajarkan radikalisme. Tapi saya tak mengira sampai sedemikian radikalnya mereka melaksanakan ibadah yang kalau dipikir-pikir hukumnya sunnah, yang berarti tak wajib mereka melaksanakannya, dan tak ada dosa bagi mereka pula jika mereka tak mengerjakannya. Maka benarlah kata seorang petinggi salah satu ormas di Indonesia ini, bahwa sanaya di sana radikalisme benar-benar diajarkan. Lihatlah hasilnya, ibadah yang mereka lakukan benar-benar radikal. Ibadah sunnah tapi segitu radikalnya. Padahal mereka laksanakan ibadah itu di rumah pun tak mengapa, kan hukumnya sunnah? Kenapa harus jamaah dan dengan jamaah yang membludak seperti itu? Dan lagi lihatlah, sampai-sampai mereka harus menggelar sajadah, atau mungkin jaket, atau surban mereka demi bisa shalat jamaah di sana walau mereka tak harus satu shaf dengan jamaah di dalam masjid. Benar-benar amat sangat radikal.

***

Mengutip pula saya dari perkataan seorang petinggi yang saya bahas di atas.

Melihat film porno lebih baik dari pada menonton ceramah provokatif dari teroris. Karena kalau lihat porno, pasti sambil beristighfar,

sumber

Maka saya berpikir lagi lebih dalam, dan saya pikir ada benarnya juga ia berkata seperti itu. Saat kalian melihat film porno di depan kalian, misal di meja depan kalian tergeletak film tersebut, reflek jika kalian muslim pastinya anda beristighfar kan? Pasti dong. Kan petinggi ormasnya juga bilang gitu. Mungkin kalau yang bukan muslim kalian akan mengatakan “astaga”. Mungkin sama saja. Walau makna dari istighfar adalah memohon ampunan kepada Tuhan. Tapi jikalau kalian dengan “melihat” film porno itu lantas kalian kemudian mengambil film itu dan “menyetel” lalu “menonton”, nah maka itu merupakan suatu tanda tanya raksasa yang perlu disematkan pada wajah anda. Normalnya orang beristighfar saat “melihat” film itu, lah anda malah lanjut dengan aktifitas “menonton” film itu. Berarti anda tak setuju dengan pendapat sang petinggi tersebut. Maka sering-seringlah istighfar.

Kemudian terkait dengan kutipan di atas, bahwa melihat film porno lebih baik dari menonton ceramah provokatif dari teroris ya sudah pasti benar dong. Seperti yang dibahas di atas, saat “melihat” film porno kita reflek istighfar, mohon ampun, bisa bernilai ibadah. Lah, saat kalian menonton ceramah provokatif, dari teroris pula, ya ada kemungkinan kalian gak akan hidup setelah ceramah selesai, atau minimal kalian akan merasa ketakutan dan merinding. Lha wong, yang ceramah teroris kok. Teroris kan orang yang meneror orang lain, yang menyebarkan ketakutan pada orang lain. Tugasnya saja sudah bisa bikin orang lain takut.

Lalu yang jadi pertanyaan, kok bisa teroris ceramah? Ceramah dimana? Ceramah-in siapa? Siapa terorisnya? Saya sendiri juga kurang paham. Bapak petingginya sendiri juga tidak bilang siapa terorisnya, yang mana orangnya, ciri-cirinya seperti apa. Tapi saya sih tak ambil pusing. Lihat lagi dari kutipan lanjutan pada sumber di atas.

Menurut Sa***id, kerap beredar ceramah-ceramah yang membawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif.

Maaf saya sensor namanya biar tak terlalu kelihatan siapa yang bilang. Tak ada maksud apa-apa, biar seperti penulis lain saja yang sensor sesuatu dengan tanda bintang.

Dari kutipan di atas ternyata bapak petinggi memberi detail bahwa teroris yang berceramah yang dimaksudkan itu membawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif. Saya masih bingung dengan logika seperti ini, bawa dalil yang kurang sesuai dengan keadaan kekinian sehingga lebih bersifat provokatif. Saya sendiri berpikir bahwa dalil-dalil yang beredar kalau sumbernya dari Qur’an ya pastilah ia selalu sesuai dengan keadaan manapun, entah kekinian atau kekanaan. Jadi dalil apapun (dari sisi Islam) yang dibawa seharusnya tak ada masalah disampaikan di keadaan manapun, asal jangan dipotong-potong saja. Kemudian, “dengan membawa dalil yang kurang sesuai dengan kondisi kekinian sehingga lebih bersifat provokatif.” Ooooohhh…. Di sini saya baru memahami pola pikir bapak petinggi ini, dan saya setuju sekali. Dari yang saya sampaikan sebelumnya setiap dalil pasti sesuai dengan keadaan manapun, kan? Maka jika ada penceramah yang membawa dalil yang tak sesuai dengan suatu keadaan, maka pastilah jamaah menjadi terprovokasi, karena si penceramah berarti menyampaikan dalil yang salah. Dalil yang benar pasti akan sesuai dengan segala zaman, segala kondisi. Maka benarlah apa yang disampaikan bapak petinggi itu.

Dan berarti jika disambungkan kutipan yang satu dengan yang lain, bahwasanya teroris yang berceramah dengan membawa “dalil yang salah” menjadikan lebih bersifat provokatif, maka menjadi masuk akal apa yang beliau sampaikan. Teroris orang yang menyebar ketakutan, orang sudah takut, kemudian teroris itu berceramah, dengan membawa dalil yang salah, pasti lah orang yang takut itu menjadi terprovokasi. Maka seharusnya saat terdapat teroris yang berceramah, yang terbaik yang dilakukan jamaah adalah membawa teroris itu ramai-ramai untuk dibawa dan ditahan oleh aparat. Jamaah yang sehat harusnya marah dan terprovokasi dengan apa yang teroris sampaikan. Sudah teroris, ceramah pula, dan bawa dalil yang salah. Pasti suatu hal yang wajar kalau jamaah terprovokasi. Namun kenyataannya sekarang tak ada jamaah yang terprovokasi sampai marah dan membawanya ke aparat. Apakah jamaahnya kurang sehat? Saya rasa tidak. Mungkin jamaahnya yang keburu takut karena mengetahui si penceramah adalah teroris. Dan sekarang saya rasa semuanya masuk akal.

***

Lantas apa hubungannya radikal dengan teroris ceramah?

Menurut saya, yang disampaikan bapak petinggi itu sudah benar, tapi saya sendiri kurang paham apa maksudnya menghubuungkan radikalisme dengan teroris berceramah. Bagaimana pola pikir si bapak petinggi yang terhormat itu. Padahal dalam KBBI sendiri arti dari radikal salah satunya adalah “secara mendasar (sampai pada hal yang prinsip)”. Maka tak salah di awal pembahasan saya mengatakan para jamaah itu radikal. Berebut shaf terdepan masjid, memenuhi masjid sampai membludak keluar masjid, berjamaah dengan shalat yang padahal hukumnya sunnah, jamaah berbondong-bondong beribadah di bulan Ramadhan. Mereka benar-benar radikal. Karena mereka paham secara mendasar beberapa prinsip yang diajarkan dalam agama mereka. Sedangkan teroris berceramah yang dibahas setelahnya, menurut saya tak ada sangkut pautnya dengan radikal yang dibahas sebelumnya. Apakah mungkin si bapak tersebut sedang menceritakan dua hal yang berbeda? Apel dengan jeruk? Atau sang bapak salah fokus? Hingga harus minum aq***ua? Saya berusaha berprasangka baik saja pada bapak tersebut, mungkin saya yang salah paham. Atau mungkin paham saya yang salah.

Entah kalimat “salah paham/paham salah” itu terngiang-ngiang terus. Entah asalnya darimana dan siapa yang mengumandangkannya.

Sudah begitu saja. Biar simpel dan tak ada yang terprovokasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s