Wasiran

Ditulis oleh dua jempol, dua jari telunjuk, dua jari tengah, dua jari manis, dan dua jari kelingking.

Tak kebetulan saya lahir di dunia yang fana ini dari pasangan laki-laki dan perempuan, karena jika itu semua kebetulan maka tak ada lah yang namanya rencana Ilahi dan jikalau saya lahir dari pasangan laki-laki dan laki-laki atau perempuan dan perempuan maka sebenarnya saya hanya bergurau belaka. Akan tetapi pasangan laki-laki dan perempuan itu beragama Islam, maka saya pun beragama Islam. Di beberapa blok dari tempat saya tinggal ada seorang yang terlahir dari pasangan laki-laki dan perempuan yang beragama Nasrani, namun entah kenapa ia beragama Islam. Dan di kejauhan sana ada lagi seorang yang terlahir dari pasangan laki-laki dan perempuan yang beragama Hindu, namun sekarang ia beragama Nasrani. Bagaimana bisa? Itulah kegunaan otak. Pada saat umur tertentu ia dipergunakan untuk berpikir. Mampu membedakan mana yang baik mana yang tidak. Jadi sebenarnya jika perkara agama yang dipermasalahkan maka tak terlalu ada sangkut pautnya kita berasal dari orang tua yang beragama apa. Toh, pada akhirnya kita mampu berpikir sendiri dengan cara kita sendiri yang menjadikan diri kita yang sekarang ini. Lalu jikalau ada seorang yang lahir di Swedia atau Israel, apakah ada jaminan bahwa ia akan memeluk Islam sebagai agamanya? Jawabannya adalah “YA”.  Berikut opsi yang memungkinkan:

  • Orang tua tersebut sedari awal memang muslim yang memang tinggal di Swedia atau Israel dan anak mereka sedari awal diajarkan Islam menurut Qur’an dan Sunnah secara tepat.
  • Salah satu orang tua tersebut beragama Islam dan sang anak diajarkan kedua agama yang berbeda secara baik dan benar, dan saat sang anak mampu berpikir secara dewasa ia mampu untuk memutuskan bahwa Islam adalah ajaran yang menurutnya paling sempurna, sehingga ia memeluk Islam.
  • Kedua orang tua tersebut beragama non-Islam dan saat sang anak mencapai tahap dewasa dalam berpikir ia mampu membandingkan agama satu dengan yang lain, yang pada akhirnya ia mampu memutuskan secara matang bahwa ajaran Islam yang paling benar, sehingga ia memeluk Islam.

Memang benar seorang manusia tak bisa memilih dari mana ia akan dilahirkan dan dimana ia tinggal setelah dilahirkan. Namun pada akhirnya ia mampu memaksimalkan kinerja otaknya yang menyebabkan pola pikirnya berkembang (tergantung pola didik orang tuanya) sehingga di saat ia menghadapi suatu perkara tertentu di kehidupan mendatang ia mampu memutuskan sesuatu, atau minimal memilah-milah mana yang baik, mana yang tidak.

Kewarganegaraannya adalah warisan, namanya adalah warisan, gennya adalah warisan. penyakitnya bisa merupakan warisan, namun agamanya bukan merupakan warisan. Saat ia terkena wasir bisa saja itu merupakan faktor gen keluarganya. Namun saat pengetahuan medismu masih kurang, pengetahuan riwayat penyakit keluargamu masih kurang, maka jangan melulu menyalahkan gen sebagai faktor utama wasirannya. Sangat tak sopan jika tetiba ia menyalahkan orang tuanya, kakek-neneknya, menyebutnya dengan keluarga wasiran. Memang benar wasir bisa karena faktor keturunan, namun belilah cermin untuk berkaca terlebih dahulu. Jangan-jangan ia wasiran dikarenakan pola makannya yang kurang baik. Berbeda dengan agama, yang mana ia bisa berpindah-pindah dari agama A ke agama Z sekehendak hatinya. Maka tidak bisa disebutkan saat wasiran anda menyalahkan orang tua dan saat anda seorang muslim anda juga menyalahkan orang tua yang juga muslim. Silakan cari tahu agama lain jika berminat untuk berpindah keyakinan dan keyakinan selain Islam memang lebih baik. Silakan olahraga dan buat pola makan yang teratur supaya tak gampang wasiran. Tak baik lho selalu menyalahkan yang tak patut disalahkan. Namun untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang wasiran yang berbeda-beda, karena saya tahu bahwa mereka wasiran bisa karena faktor gen atau keteledoran mereka sendiri.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan dimana kita tinggal. Tapi yang patut diingat, lingkungan kita kebanyakan bersih dari radiasi lho ya, normalnya. Tak mungkin saat orang tua kita memiliki ras kaukasoid kemudian dikarenakan lingkungan tertentu ras kita berubah menjadi ras persia. Meskipun lingkungan terpapar radiasi sinar gamma sekalipun, saat orang tua memiliki ras tertentu, takkan bisa kita tetiba menjadi sosok hijau raksasa bercelana pendek ungu. Terlebih lagi suku dan kebangsaan. Tak mungkin pula saat orang tua kita yang bersuku minang kemudian kita lahir di tengah perkampungan suku aborigin lantas kita seketika itu bersuku aborigin, dan seketika itu pula memiliki kebangsaan Australia. Untuk agama? Ya itu keputusan kita sebagai manusia yang berpikir kok. Sudah dibahas juga di bagian awal tulisan. Mau orang tuamu alim ulama pemimpin ormas, kalau kita pikir tak beragama lebih baik ya silakan putuskan jadi atheist. Atau orang tuamu penyembah api sekalipun, kalau otakmu lebih percaya pada trinitas silakan saja anut yang kau percaya. Agama itu kebebasan tiap orang kok.

Sejak masih bayi saya didoktrin bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar. Sejak saya bisa berpikir lebih dewasa mengenai hidup, saya pun juga masih memiliki pemikiran Islam adalah agama yang paling benar. Sejak saya hidup sekian tahun lamanya pun saya menyaksikan bahwa beberapa orang yang didoktrin agama X, Y, Z adalah agama yang paling benar kemudian berpindah ke Islam karena memang mereka yakin bahwa Islam yang paling benar. Dan itu memang fakta.

Orang-orang yang berpikir seharusnya tak kunjung “kasihan” saat ia seorang yang wasiran. Mereka harus cari tahu penyebabnya sehingga menjadi wasiran seperti ini. Pola makan jelek? Faktor gen? Akan timbul rasa keingintahuan. Begitu juga saat kita didoktrin kenapa Islam diklaim agama yang paling benar? Mana buktinya? Secara ilmiah bisa dibuktikan tidak? Secara nalar? Akal sehat? Logika? Kemudian kenapa orang-orang beragama X, Y, Z malah masuk neraka? Lihat secara detail bagaimana ajaran mereka? Sudah sampai kesanakah sebelum menyimpulkan agamamu yang paling benar? Sudah? Belum? Saat tahapan self-claim-mu mengatakan dirimu seorang yang berpikir maka anda akan lebih lanjut menggali ilmu tersebut sedalam-dalamnya. Supaya dalam memeluk suatu agama atau meyakini suatu keyakinan kalian benar-benar harus 100% percaya faktor 5W+1H yang anda paparkan sendiri. Bukan meyakini suatu hal secara buta, atau sebelah mata, atau mungkin menganggapnya “warisan”.

Jalaluddin Rumi pernah mengatakan, “Kebenaran adalah selembar cermin di tangan Tuhan; jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap orang memungut kepingan itu, memperhatikannya, lalu berpikir telah memiliki kebenaran secara utuh.”

Kalau pun kebenaran adalah selembar cermin yang jatuh dan pecah dari tangan “Tuhan”, dan menjadi berkeping-keping, menjadikan kebenaran itu bernilai jamak. Jikalau Tuhan membuat kebenaran bernilai jamak, yang mengartikan kebenaran suatu agama yang “beraneka ragam” itu bernilai benar semua, lantas kenapa tiap agama mengklaim dirinya yang paling benar? Apakah ada kejanggalan? Jikalau Tuhan hanya satu, apakah berarti Dia tak konsisten dengan mengatakan di tiap “pedomannya” dengan klaim “paling benarnya”? Atau apakah Tuhan bermacam-macam? Jikalau Tuhan di sini dianggap jamak, maka Tuhan yang mana yang dikutipkan seorang Jalaluddin Rumi? Bukankah ia mengutipkan Tuhan yang singular? Kenapa kutipan tersebut terkesan ambigu? Dan jikalau kita muslim, kenapa kita tak langsung mengutip pada Qur’an yang telah jelas sumbernya, yang mengatakan dengan gamblang bahwasanya Islam adalah agama yang paling benar. Dan diridhai oleh Tuhan sendiri. Kenapa terdapat kontradiksi?

Dari kutipan awal saja sudah jelas terjadi kejanggalan. Apalah artinya jika diteruskan. Kebenaran yang jamak, tak mutlak, yang dibuat oleh Tuhan, kemudian Tuhan berperan memecah belah “kebenaran” yang menjadikan “kebenaran” itu menjadi suatu “keambiguan”.

Manusia takkan pernah bisa kok menjadi Tuhan. Apakah ada motor pabrikan bisa berperan sebagai insinyur mesin? Yang merancang dan menciptakan motor pabrikan? Manusia ya memang tugasnya menyampaikan ayat-ayat Tuhan. Layaknya motor yang menjalankan suatu pekerjaan yang diinstruksikan pengguna yang telah dirancang oleh insinyur. Tapi jikalau terdapat ayat-ayat Tuhan yang mengatakan ciri orang beriman adalah A, B, C, apakah salah jika saya melihat orang yang memiliki ciri A, B, C, kemudian saya sebut dia orang yang beriman? Apakah salah jika saya mengatakan orang dengan ciri X, Y, Z adalah orang munafik sementara ayat-ayat Tuhan mengatakan itu semua? Apakah salah saat penumpang motor mengatakan bahwa aki motor X jelek, sementara insinyur melampirkan di buku manual bahwa aki motor Z lebih bagus untuk dipakai? Apa dengan seperti itu si “motor” atau penumpangnya semacam playing God? 

Justru karena kita masih menghamba makanya kita percaya dengan ayat-ayatNya. Karena jika terhadap ayat-ayatNya saja tak percaya, masihkah anda sebut diri menghamba? Melabeli orang memanglah Tuhan yang mampu. Tapi Tuhan sendiri telah menyampaikan petunjuk agar para pengikutNya mampu melihat “label” itu dengan petunjuk yang ada. Kalau kita sendiri tak sanggup melihat label berdasarkan petunjuk yang didapat, bagaimana tahu bahwa bungkus ini berisi bebuahan? Bungkus itu berisi sesayuran? Atau bungkus di sana yang berisi kekucingan? Dan bungkus mereka yang wasiran?

Lantas jika ada pertanyaan dari anda menanyakan siapa yang menciptakan Islam, Yahudi, Nasrani, Buddha, Hindu, bahkan atheis, dan memelihara mereka sampai hari ini kalau bukan Tuhan? Maka jawab saja dengan riang gemilang dengan sudut pandang kalian masing-masing. Saya sebagai sudut pandang muslim dengan mudah akan menjawab bahwa Tuhan hanya menciptakan Islam sedari awal. Tak ada istilah Yahudi, Nasrani, dan lain sebagainya seperti yang disebutkan di atas. Istilah-istilah itu hanyalah ciptaan orang-orang yang berbelok ke jalur yang lain. Sama saja semisal Tuhan yang hanya menciptakan satu jalan saja dengan satu “nama jalan” pula, yang jauh meliuk-liuk, bersemak duri, berlumpur dan bertanah liat, sampai suatu saat orang malas melalui jalan yang menyusahkan itu dan membuat jalan baru dengan “nama baru”, dan jalan baru lagi, dan jalan baru lagi, nama baru lagi, dan seterusnya, yang pada akhirnya ia lupa tujuan jalannya mau diarahkan kemana, yang akhirnya menjauhkannya dari jalan utama yang Tuhan telah ciptakan. Sampai akhirnya mereka tak menemukan toilet untuk tempat bernaung mereka dikala membutuhkan, hingga mereka wasiran.

Lalu jika ditanyakan lagi, apakah suatu negara yang dihuni oleh rakyat dengan agama yang sama akan menjamin kerukunan? Tergantung agamanya. Bisa ya, bisa tidak. Berikut opsi-opsinya:

  • Jika pemimpinnya tidak taat dengan perintah agamanya, tidak menjalankan hukum sesuai dengan apa yang diperintahkan dengan agamanya, maka bisa jadi akan terjadi perselisihan. Rakyat yang menuntut pemimpin yang taat, melawan rakyat yang membela pemimpin yang ia cintai.
  • Jika pemimpinnya sangat taat dengan perintah agamanya, menjalankan hukum sesuai dengan perintah agamanya, maka sangat dimungkinkan terjadi kerukunan dalam bermasyarakat. Rakyat yang senang karena pemimpin yang taat, berdampingan dengan rakyat yang merasakan perubahan yang baik karena pemimpin menjalankan segala hukum sesuai dengan perintah agamanya.

Sangat logis saat poin terakhir di atas terdapat suatu kontra-pemimpin pada awalnya. Maka hal tersebut akan terjadi penyesuaian seiring berjalannya dengan waktu. Mereka mungkin tak menerima semisal hukuman potong tangan bagi pencuri. Namun bukankah itu menimbulkan efek jera bagi mereka yang berpotensi melakukan tindak pencurian? Yang mengakibatkan laju pencurian di negara tersebut menjadi menurun? Apakah dengan menurunnya hal-hal yang buruk yang terjadi di tengah masyarakat akan mengganggu masyarakat seutuhnya di negara tersebut?

Dan karena itulah jika anda-anda semua membaca sejarah lagi maka akan terlihat bahwa pejuang-pejuang negeri ini sesungguhnya adalah para ulama. Lihat dan baca lagi Undang-Undang Dasar yang kebanyakan terinspirasi dari beberapa hukum yang ada di Qur’an. Perhatikan lagi semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang sangat mirip dengan jalannya bernegara dalam syari’at Islam. Apakah negara-negara Islam zaman kekhalifahan dulu tidak menghargai pemeluk agama lain yang tinggal di negara tersebut? Pernah ada cerita kah bahwa terdapat pembakaran gereja atau sinagog di zaman kekhalifahan? Pernahkah terdapat intervensi dari rakyat muslim terhadap rakyat non-muslim hanya karena berbeda keyakinan? Saya rasa tidak. Padahal sistem penerapan hukum yang berjalan di sana pada zaman dulu adalah hukum Islam. Akan tetapi mereka hidup dengan baik berdamping-dampingan. Meskipun tetangga mereka wasiran, mereka mau membantu mengurus dan merawat mereka yang wasiran. Tak ada masalah.

Suatu hari di masa depan, kita akan menceritakan pada anak cucu kita betapa negara ini dulunya bersatu padu dalam bingkai yang sama walau dengan foto yang berbeda-beda. Sebegitu lamanya negara ini dijajah oleh orang-orang “non Islam” kemudian pada akhirnya berhasil dibebaskan oleh rakyat kita, dan banyak ulama yang berperan di sana. Dan mereka meneriakan takbir sekencang-kencangnya saat jihad yang mereka lakukan berhasil, yang menjadikan kita bisa duduk dengan nyaman di rumah masing-masing tanpa intervensi orang-orang “non Islam” yang dulu menduduki kita. Ketika negara lain sudah pergi ke bulan, atau merancang teknologi yang memajukan peradaban, nenek moyang kita sedari dulu sibuk mencerdaskan akhlak rakyat-rakyatnya, sibuk memperbaiki amalan-amalannya, untuk kehidupan selanjutnya dengan waktu yang tak terhingga. Karena apalah artinya ke bulan jika bernafas di sana saja kita harus bawa tangki oksigen kemana-mana layaknya seorang pasien tertentu di rumah sakit? Apalah artinya merancang teknologi baru yang pada ujungnya lebih banyak “memajukan” mudharat di tengah masyarakat?

Kita tak harus berpikiran sama. Tapi alangkah baiknya jika anda berpikir dengan pandangan yang berbeda, dengan pemikiran yang luas, dan bukan menilai sesuatu dari satu macam teropong saja. Teropongmu belum tentu seakurat teropong yang lain.

Ini adalah tulisan untuk membenahi landasan “luas” cara berpikir kita. Jangan apa-apa dihubungkan ke tulisan yang judulnya hampir sama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s