Senandung Nestapa Bukan Saatnya

Bisa jadi ketika di ujung jalan sana kita melihat seorang berpakaian compang camping dan bahkan bertelanjang bulat yang ternyata tak digoreng dadakan malah justru memiliki keadaan yang lebih baik dan lebih tenang dibandingkan kalian-kalian semua yang berseragam rapi sedang berdasi dan bercelana necis nan trendi. Di kejauhan terlihat dia duduk dan terkadang berdiri sendiri, orang-orang melalui silih berganti namun menghindari. Melihatnya pun mungkin dengan ekspresi keji yang jijik. *Puih* Namun apa yang terjadi? Ia tetap riang sendiri dengan wajah yang tersenyum dan berseri-seri. Semu memerah merona di pipinya samar-samar layu. Mungkin saja karena warna kulitnya yang menghitam terbakar sang mentari di terik hari.

Tak sanggup dia berdiri kemudian ia duduk kembali. Sorot mata tajam namun tak tahu ke arah mana apperture mengobjek menghujam. Buyar sudah lamunannya setelah tak jauh darinya sekitar seratus sembilan puluh dua senti terdapat gerombolan bocah sakti berdasi merah berani. Lantang mereka meneriakkan yel-yel sejati yang biasa mereka utarakan selepas sedetik lebih dua puluh mili melihat sasarannya. Dia yang jadi sasaran, orang malang yang kurang bisa berdandan.

“ORANG GILAAA!! ORANG GILAAA!!”

Maki-maki? Bisa jadi.

Namun dia anggap itu kompetisi, maka seketika tak kalah ia menari-nari. Semakin jadi bocah-bocah itu bertingkah dengan berbagai macam polah. Kicauan maki-maki mereda, kini saatnya batu kerikil yang berbicara melalui mulutnya yang tak tertera. Hujaman meteor-meteor mini membasahinya yang sedang menari dengan gembira. Tak sadar rasa basah yang biasa ia rasakan ternyata berbeda dan terkesan berantakan. Basah kini diterjemah dengan keluh kesah. Menangis sejadi-jadinya ia dibuatnya. Sang bocah-bocah pun tak berhenti bertingkah. Sekarang mereka anggap perjuangan telah sampai pada saat-saat yang berbahagia dan serta selamat sentosa. Tawa canda riang gembira dengan yel-yel khasnya pun bergelora semakin membabi buta.

“HAHAHAHA…. ORANG GILAAAA NANGIIIIS!!! HAHAHAHA!!!”

“ORANG GILAAAA!! ORANG GILAAAA!!!

“WKWKWKWKWK”

Maaf, sepertinya tertawa di atas kurang bisa dilafalkan menurut mulut manusia pada umunya. Maka diralatlah ketertawaan yang tersedia sebelumnya.

“HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!!”

Dan begitu seterusnya sampai mereka mengusaikan sudah momen langka yang sangat berharga ini. Karena beberapa hari silam mereka tak menjumpai dia yang sedang berada di atas pohon rindang itu. Entah kenapa mereka tak kunjung bisa berpikir bahwasanya dia adalah manusia yang bukan biasanya. Maka seharusnya pula mereka berpikir di luar kebiasaannya dengan mendongakkan kepala. Dan niscaya mereka seharusnya pada hari itu juga akan mendapat hadiah tak terhingga darinya. Entah berbentuk cair atau padat. Padat yang tak terlalu padat tentunya.

Tapi hari itu mereka sukses bukan main. Sedang dia di sana menjongkok menunduk dengan kepala dilindungi kedua kaki yang tertekuk. Terdengar gumamannya semacam orang yang mendengung. Suram.

Kurang dari lima puluh tiga detik lewat tiga puluh satu mili, ia menjauh dari keterjongkokkannya. Ia tegap berdiri sempurna. Seperti sedia kala tentunya. Tersenyum dengan bahagia sentosa. Bahkan tertawa riang tak terhingga. Cerah seketika menyelimuti wajahnya yang merona tak terlihat oleh mata.  Secercah harapan terpancar di matanya yang membara seakan judul tesis telah di depan mata dan seketika dapat diraihnya.

Bersedihlah justru pada kalian-kalian semua, serta tentu saja hamba yang hina. Lihatlah dia dengan lantang mendeklarasikan kebahagiaan mewahana. Setelah kau lihat kejadian di arah sana. Oi! Iya, kalian-kalian manusia dunia!

Dia senantiasa melupakan masalah di belakangnya. Bahkan sepertinya ia tak tahu di sebelah mana arah belakang berada. Kalau kau dapat melakukan perjalanan waktu sekali pun ke arah belakangnya. Kau bisa melihatnya yang sepertimu sekarang, namun waktu yang berjalan melingkar meliuk namun terkadang lurus itu mampu merubahnya sampai setegar karang. Tentunya kalian semuanya sudah mengetahui ketegarannya yang sekarang tak dinilai apapun. Baik di sisi manusia atau Sang Perkasa. Sebelum ia tak mampu melihat ke belakang itulah yang ternilai harganya. Baik itu harga yang pantas atau terkandas. Buas sudah.

Kalian dan dia di satu sisi sama. Kalian dan dia di satu sisi berbeda. Namun kalian-kalian, serta hamba yang hina, dapat belajar darinya. Tentang realita dan keadaan di sekitar kita. Tentang topeng-topeng pelindung wajah berkoreng, coreng cemoreng. Buang sudah.

Maka senandungkanlah sesuatu untuk selalu mengingat yang akan datang. Karena sesungguhnya yang akhir jauh lebih baik daripada yang awal. Senandung nestapa bukan yang diminta. Senandungkanlah dengan rendah serendah-rendah kau punya derajat di depan mata. Depan mata hanyalah semu semata. Fana yang tak bernuansa. Karena tertutup mata senja yang kau pelihara semenjak petunjuk sirna. Buka sudah.

Setelah senandungmu disenandungkan tanpa jemu, kemudian terbitlah saatmu acuh terhadap belakangmu yang buatmu membiru. Sendu. Terbelenggu. Setelah lama kau tertusuk sembilu kelabu. Senandungkan dengan penuh rasa rindu untuk berjumpa dengan Yang Mencintaimu Selalu. Rindu berpulang tuk berpangku. Senandung yang seperti pecinta sejati lakukan di masa lalu. Senandung yang tak melantun merdu. Namun bukan senandung yang pilu. Melainkan senandung yang membuatmu ingat selalu. Buai sudah.

***

Bisa jadi di ujung sana tak berarti apa-apa di mata. Namun dia masih tertawa saja. Setelah sekian lama kita berpaling sebentar darinya.