Keguguran Menuju Kesegaran

Setangkai anggrek bulan yang hampir gugur layu, kini segar kembali entah mengapa.

Saat teringat syair tersebut maka yang teringat dalam benak, lubuk, serta sanubari terdalam ialah setangkai bunga anggrek bulan, namun yang bagi pribadi yang masih terlampau remaja di kala itu dan sampai sekarang yang masih sangat muda di kala ini, entah mengapa bunga anggrek tersebut dinamakan anggrek bulan. Ini bagaikan suatu penerapan yang kurang tepat dari suatu istilah atau nama subjek pada suatu objek tertentu yang menurut orang awam yang tak paham, serta orang yang tak awam yang paham sekalipun, saking rancunya.

Teringat pula mangga manalagi yang bagaimana bisa dicari saat anda mendapatkan suatu buah mangga justru diminta untuk mencari yang lain. Atau yang terbaru yang mungkin belum terlalu tren di kalangan anak muda adalah mangga Syahrini. Entah apa yang ada di dalam pikiran si pencipta istilah atau kosakata baru tersebut. Mungkinkah mangga tersebut saat akan dipetik si pemetik tersebut ragu-ragu, sehingga terlihat maju-mundur dikarenakan keraguannya? Atau kah mangga tersebut terlihat cantik dengan ulat bulu di sekitarnya yang bulunya sendiri bagaikan badai El-Nino? Atau justru mangga tersebut jatuh di antara bunga-bunga yang bermekaran bergelora di ujung pemakaman?

***

Diilustrasikan bahwasanya anggrek bulan tersebut telah gugur dan telah layu. Sebagai orang yang tak ahli dalam bidang bercocok tanam, kurang bisa untuk mendeskripsikan sesuatu yang tak terlalu dipahami ini. Namun sebagai orang awam, bisa diberi suatu ringkasan yang singkat bahwasanya suatu bunga yang telah gugur dan terlebih lagi telah layu, bagaimana bisa ia menjadi segar kembali seperti sedia kala? Apa mungkin ilustrasi tersebut mengisyaratkan sesuatu yang telah mati namun bisa menjadi segar kembali saat ia masih hidup? Sebagaimana seseorang yang telah beramal baik di dunia, kemudian ia menua mati dan membusuk lalu dibangkitkan kembali dalam keadaan yang segar bugar seakan dia kembali pada umurnya yang belia? Who knows.

Mengenang kembali jasad yang lekang oleh waktu ini. Waktu menggerogoti apapun dan membunuh apapun. Namun waktu juga dapat menyegarkan apapun sekaligus menghidupkan apapun. Sesaat setelah detik ini berlalu bagian darimu entah akan tergerus atau tersegarkan, entah akan terbunuh atau terbangkitkan. Maka tak sia-sialah wahai kalian yang mempelajari matematika atau kalkulus, karena hampir semua yang ada di situ adalah benar adanya. Dan jangan kau sesali pula wahai kau yang berubah terhadap waktu, karena saat kau tak berubah terhadap waktu sesungguhnya kau sama saja seperti waktu yang lampau. Namun janganlah kau senang wahai anda-anda yang telah berubah terhadap waktu. Lihatlah bagaimana waktu merubahmu, menjadi grafik yang selalu naik kah? Atau turun kah?

Entah mau ke arah mana pembicaraan ini akan berlanjut…

Maka, mari kita perhatikan sang waktu wahai saudara-saudaraku.

Kalian lihatkah sang anak tengah jalanan meninggalkan dunia sinetron ini? Janganlah sedih dulu wahai kau pengagum dunia! Selalu ingat-ingatlah bahwasanya saat yang satu gugur, maka akan selalu digantikan dengan yang baru. Bisa jadi ia lebih baik atau lebih buruk. Maka lihatlah kejadian yang telah sudah-sudah di sekitarmu, wahai pecinta dunia! Lihatlah penjual bubur ayam broiler yang telah tiada! Bagaimana kau lihat kelanjutan dunianya? Waktu ke dua ribu sekian telah dilaluinya! Dan sungguhlah itu merupakan suatu keluar biasaan yang sangat nyata!

***

Kemudian jika kita rujuk kembali pada kutipan perdana di atas sana, diilustrasikan bahwa anggrek yang telah gugur dan layu menjadi anggrek yang segar seperti saat dia pertama kali mekar. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa syair tersebut ditujukan bagi seseorang yang selama saat-saat mekar sampai sebelum gugur-layu, ia senantiasa memanfaatkan waktunya untuk sesuatu yang bermanfaat. Waktu memang menggerogoti jasadnya yang tak pernah kekal, akan tetapi sesuatu di dalam dirinya tersegarkan untuk tujuan yang akan datang. Sesuatu yang menyegarkan pastilah menyenangkan dan disukai orang. Bagi seorang yang terlampau kehausan, air keruh apapun (selama itu air tawar) akan menjadi sesuatu yang menyenangkan karena baginya adalah sesuatu yang menyegarkan. Sedangkan untuk seorang yang normal, air keruh bisa jadi mendatangkan sesuatu yang tak mengenakan. Terlihat ambigu, akan tetapi berhikmah dan tanpa ragu.

Itulah sesuatu yang tergerus dan tersegarkan. Sesuatu yang terkadang tak disadari ada dalam diri kalian wahai jasad-jasad pembawa kotoran. Setiap masukan yang sama akan membawa keluaran yang berbeda-beda tergantung kondisi kalian sendiri. Saat kalian masih penuh dengan kekosongan, maka air tawar dalam bentuk apapun dan dari sumber mana pun akan membuatmu maju selangkah dua langkah penuh harapan. Namun saat air tawar mengisi relung kekosonganmu, air tawar tambahan yang lain akan membuatmu mundur justru di atas dua langkah sehingga melamban.

Segarkan maka pencerahan berdatangan. Renungkan maka kekotoran tersingkirkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s